Tuesday, December 1, 2009

Syahroni, Putra Demak Jutawan Rujak

Profil Syahroni pengusaha Rujak ulek tidak sekolah tinggiDi tangan Syahroni, jajanan rujak ulek mampu mengantarkannya menjadi jutawan. Pria asal Demak ini juga mendapat ide ketika ia merantau ke tanah Minang. Makanya, ia menamakan usahanya Rujak Muaro Padang. Rupanya, peruntungan Syahroni sesegar rasa rujak uleknya.

Siapa tak kenal rujak? Olahan berbahan baku buah ini seakan jadi makanan universal. Apalagi jika cuaca lagi panas-panasnya, wuih… makan rujak pun bisa jadi ide cemerlang. Alasan inilah yang menggelitik Syahroni untuk membuka usaha rujak.

Meski memakai nama Muaro Padang, ternyata Syahroni asli kelahiran Demak. Rujak yang dia olah pun khas Jawa, yakni rujak bebeg dengan taburan kacang utuh. Cuma, lantaran pernah merantau ke ranah Minang selama enam tahun, Syahroni menamakannya Rujak Muaro Padang.


Pria yang hobi mengendarai Jeep Willis ini kini tinggal mereguk nikmat dari buah keringatnya. Bersama istri dan tiga anaknya, Roni mengaku sangat bahagia. Namun dulu, perjuangannya cukup berliku. Kondisi keuangan keluarga yang mepet memaksa dia putus sekolah, lalu merantau ke Jakarta, hingga ke Padang.

Kini, saat ratusan pedagang di Jakarta menjajakan rujak dalam bentuk gerobak dorong, Roni, demikian dia biasa disapa, sudah menjajakan rujak olahannya di empat kios sekaligus. Sebanyak dua kios di daerah Pasar Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Selatan, dan dua sisanya dikelola dekat rumahnya di Cibinong, Bogor. Sebanyak 24 karyawan ia kerahkan untuk memutar roda bisnis ini.

Penghasilan Roni tak main-main. Per hari ia mampu menangguk omzet hingga Rp 6 juta dengan margin keuntungan sekitar 30 persen. Berarti, sebulan ia bisa meraup untung sekitar Rp 45 juta. Jumlah yang besar untuk harga rujak yang dijual Rp 12.000 per porsi ini. “Dulu sebelum krismon (krisis moneter) bahkan bisa lebih dari Rp 7 juta per hari,” aku pria 43 tahun ini.

Roni memperkirakan, untuk kios pusatnya di Benhil saja, karyawannya saban hari melayani 200 pembeli. Pengunjung rata-rata dari kalangan menengah ke atas, terutama mereka yang berkantor di Jalan Sudirman.

Tak semua pengunjung membeli rujak. Soalnya, belakangan Roni juga menyediakan bakso, mi ayam, siomay, dan aneka minuman buah. Roni mencatat, total menunya mencapai 40 macam, terdiri dari makanan dan minuman. “Tapi, rujak ulek tetap menjadi primadona,” imbuh Roni.

Roni berkisah, sejumlah pelanggan mengaku rujaknya mampu membikin wanita yang sulit hamil menjadi hamil. “Anak perempuan Camelia Malik (artis) yang terakhir itu lahir setelah ibunya makan rujak saya rutin. Ini cerita dari Camelia,” kenang Roni.

Larisnya permintaan rujak kadang membuat Roni kewalahan, terutama jika menjelang akhir pekan. Alhasil, Roni mesti memborong aneka buah hingga 1,5 kuintal, gula 20 kg, kacang 10 kg, dan daging untuk kebutuhan bakso. Total belanjaannya sekitar Rp 3 juta per hari. “Saya masih ikut belanja sendiri karena harus mengecek kualitas buah-buahnya,” ungkapnya.

Roni tak pernah menyangka jika ia yang hanya jebolan kelas IV SD mampu meraih pencapaian seperti sekarang. Ia bisa menyekolahkan anak-anaknya dan membangun rumah seluas 600 meter persegi di daerah Ciledug. Roni juga telah mampu membeli sebuah mobil pikap pribadi untuk urusan operasional usahanya. Di samping itu, ia punya mobil lain yang memang sudah lama dia impi-impikan.

Dikutip dari tabloid Kontan

Readmore »»

Saturday, November 28, 2009

Besok Pilihan Kepala Desa Di Demak

Pilihan kepala desa di Demak kota wali masjid agung demak bintoro sultan fatah grebeg besar kadilangu makam sunan kalijaga ziarah tour travelSerentak Di 53 Desa

DEMAK- Proses pemilihan kepala desa (pilkades) yang akan digelar di 53 desa, telah memasuki tahapan akhir. Kemarin, para bakal calon kades ditetapkan menjadi cakades. Mereka berhak dipilih warga desa pada 29 November.

Setelah penetapan balon kades menjadi cakades, panitia langsung mengundi nomor urut. Setelah itu cakades melakukan pemaparan visi-misi dan berkampanye keliling desa.

Kabag Pemerintahan Umum Setda Demak Drs H Taufik Rifai MSi menuturkan, pilkades tahap IV ini diikuti 132 cakades. Mereka tersebar di 53 desa.


Sedianya pilkades akan dilaksanakan di 54 desa, namun Desa Wringinjajar urung menyelenggarakan, karena pihak desa gagal membentuk panitia.

’’Untuk Desa Wringinjajar akan dilakukan setelah ada pejabat kades. Saat ini Pemkab telah mengajukan surat permohonan ke Kodim 0716/Demak, yang isinya Pemkab meminta personel Kodim untuk ditugaskan sebagai Pj kades di desa tersebut,’’ ujar Taufik.
Minta Tunda
Sementara itu, pilkades di Desa Ngawen, Kecamatan Wedung, diminta ditunda, karena satu-satunya calon kades diduga tidak memiliki ijazah SMP sederajat, tetapi memakai ijazah pondok pesantren (ponpes). Karena itu, salah seorang warga, Heri, meminta agar panitia menunda pilkades.

’’Kalau memakai ijazah ponpes berarti tidak sesuai dengan perda,’’ katanya.

Anggota panitia pilkades Desa Ngawen Ahmad Zaenal Muttaqien mengatakan, cakades di desanya, Susilo, telah memenuhi peryaratan, termasuk persyaratan ijazah.

’’Ijazah yang digunakan adalah Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang berarti setara dengan SMP. Dia lulusan MTs Matholiul Falah, Kajen, Margoyoso, Pati,’’ ungkapnya.

Readmore »»

Upacara Grebeg Besar Demak 2009

Upacara Grebeg Besar Kabupaten DemakHujan Iringi Rombongan Pembawa Minyak Jamas

DEMAK - Hujan cukup deras menyertai iring-iringan pembawa minyak jamas yang akan digunakan untuk menjamas pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, Jumat (27/11).

Meski basah kuyup, sebagian tetap melanjutkan hingga ke Kadilangu. Iring-iringan yang terus melanjutkan antara lain bupati, wakil bupati dan muspida yang berada di barisan depan rombongan pengantar minyak jamas. Tampak baju bupati beserta Hj Hermini Tafta Zani basah terkena hujan.


Pasukan patang puluhan yang berada di belakang kereta kuda pembawa jamas terlihat tetap tegap, berjalan dari pendapa kabupaten sampai ke Sasana Rengga Nata Bratan, tempat penyerahan minyak ke Kasepuhan Kadilangu.

Puncak grebeg besar berupa penjamasan pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga, yakni Keris Kiai Cerubuk dan Kotang Ontokusumo. Prosesi tersebut diawali dengan penyerahan minyak jamas dari Bupati H Tafta Zani kepada Lurah Tamtama yang diperankan Edi Suntoro.

Namun sebelumnya dipentaskan pagelaran Tari Bedhaya Tunggal Jiwa. Tarian ini melambangkan ’’manunggale kawula lan gusti’’, yang dibawakan oleh sembilan remaja putri.

Setelah menerima minyak jamas, lurah tamtama kemudian membawanya ke kasepuhan ahli waris Kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu.

Perjalanan minyak jamas dikawal oleh bhayangkara Kerajaan Demak Bintoro ’’Prajurit Patangpuluhan’’ dan diiringi kesenian tradisional Demak.

Di antaranya, barongan, kuda lumping, serta rombongan santri. Bersamaan dengan itu, bupati beserta rombongan menuju Kadilangu dengan mengendarai kereta berkuda.

Saat rombongan bergerak dan baru sampai Jalan Sultan Fatah tepatnya depan pecinan, tiba-tiba hujan turun cukup deras.
Sebagian tetap melanjutkan perjalanan, tetapi sebagian lainnya memilih balik kanan, karena andong yang membawa mereka tanpa penutup sehingga basah terkena hujan.

Ratusan warga yang sebelumnya telah berada di tepi jalan yang akan dilewati iring-iringan pun memilih bubar. Mereka berteduh di toko-toko sepanjang Jalan Sultan Fatah dan Jalan Kadilangu.
Jamas Pusaka
Sesampai di Nata Bratan, minyak tersebut diserahkan kepada perwakilan kasepuhan ahli waris Sunan Kalijaga. Dilanjutkan di bawa ke pemakaman Kadilangu untuk menjamas dua pusaka agung. Sebelum penjamasan, dilaksanakan doa bersama Sesepuh ahli waris Sunan Kalijaga Raden H Soedioko.

Sesepuh kemudian masuk ke cungkup makam Sunan Kalijaga bersama bupati, muspida dan anggota ahli waris lainnya. Di tempat itulah penjamasan pusaka Keris Kiai Cerubuk dan Kotang Ontokusumo dilakukan. Penjamasan dilakukan dengan mata tertutup.

Konon, jika penjamasan dengan mata terbuka akan membuat mata yang memandikan pusaka tak bisa melihat lagi.
Menurut Kabag Humas Setda Demak, Rudi Santosa SH, penjamasan dilakukan dengan mata tertutup.

Hal tersebut mengandung makna, bahwa penjamas tidak melihat dengan mata telanjang, tetapi melihat dengan mata hati.

’’Artinya, ahli waris sudah bertekat bulat untuk menjalankan ibadah dan mengamalkan agama Islam dengan sepenuh hati.’’

Pusaka Kotang Ontokusumo, lanjut dia, berwujud ageman yang dikiaskan sebagai pegangan santri yang dipakai Sunan Kalijaga setiap kali berdakwah. Penjamasan pusaka-pusaka tersebut didasari oleh wasiat Sunan Kalijaga sebagai berikut, ’’Agemanku.

Besuk yen aku wis dikeparengake sowan engkang Maha Kuwaos, selehna neng nduwur peturonku. Kajaba kuwi, sawise aku kukut, agemanku jamas ana.’’

Melalui proses penjamasan tersebut, diharapkan umat Islam dapat memetik makna yakni kembali ke fitrah dengan mawas diri, senantiasa berbuat kebaikan dan mensucikan diri dari dosa serta meningkatkan iman dan taqwa Kepada Allah SWT.

Sumber : Suara Merdeka

Readmore »»

Ayo Main Game

The Pure of Wisdom

People who have a sincere policy is just a normal person. Something of the incredible human and extraordinary will not survive long. Who survive long is it - the simple and ordinary prose. All that is made will be lost their natural taste. Only natural that only the pure.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Orang yang memiliki kebijakan sejati hanyalah orang biasa. Sesuatu karya manusia yang menakjubkan dan luar biasa tidak akan bertahan lama. Yang bertahan lama adalah hal - hal yang sederhana dan biasa biasa saja. Semua yang dibuat akan kehilangan rasa alaminya. Hanya yang alami saja yang sejati.
 
© Copyright by angkatan 87 : SMA 1 DEMAK  |  Template by Blogspot tutorial